Minggu, 13 Mei 2012

MAKALAH AGAMA BUDDHA DI INDIA DAN TIONGKOK (CINA )

MAKALAH AGAMA BUDDHA DI INDIA DAN TIONGKOK (CINA )

Makalah ini disajikan untuk menjadi bahan diskusi mingguan
pada mata kuliah Buddhisme

Dosen Pembimbing :
Drs. H. Roswen Dja’far
Hj. Siti Nadroh, M.Ag
Saeful Azmi,M.Ag




Disusun oleh :

Ahmad Khoirul Fatihin
Rahman Taufik






JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2012 M/1433 H



KATA PENGANTAR

Puji serta rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat, hidayah dan inayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada rasul panutan kita yakni Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarganya, para sahabatnya dan semua pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Dengan selesainya makalah ini, mahasiswa dan para pembaca diharapkan mampu memahami dan mengamalkan isi dari pada makalah ini dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari mahasiswa dan para pembaca.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini, semoga amal kebaikannya dilipat gandakan oleh Allah SWT dan menjadi amal saleh yang akan menjadi saksi di hari kiamat nanti. Amiin



Penulis


   A. Latar Belakang

Sejarah perkembangan agama Buddha di dunia ini merupakan hal yang sangat penting bagi setiap manusia. Karena minat setiap manusia kurang mengenai sejarah dalam keingin-tahuan tentang perkembangan agama Buddha di dunia. Agama Buddha yang secara historis dan filosofis telah menjadi bagian dari peradaban dunia yang nilai-nilai filsafati, budaya, politis dan yang berkaitan dengan perkembangan dunia secara lokal maupun global telah mendarah daging menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perubahan dan perkembangan suatu bangsa, khususnya di Asia. Sejarah perkembangan agama Buddha dianggap dimulai di daerah hulu Sungai Indus sekitar 33.000 tahun yang lalu, tepatnya di Mahenjo Daro dan Harappa. Pada mulanya penduduknya tidak seperti sekarang tetapi memiliki perawakan yang kecil, berkulit hitam, dan berambut keriting yang lebih dikenal sebagai bangsa Dravida. Setelah masuknya bangsa Arya yang membawa serta kebudayaannya, membuat peradaban bangsa Dravida terdesak ke India bagian selatan. Kedatangan bangsa Arya inilah yang menimbulkan adanya system kasta di dalam struktur masyarakat India .

    B. Tujuan

Pembuatan makalah yang bertema “Sejarah Perkembangan Agama buddha Dunia
1. Masyarakat dapat memahami sejarah Agama Buddha Di Dunia
2. Agar mahasiswa dapat mengenal sejarah perkembangan Agama Buddha di dunia
3. Menambah wawasan para pembaca.

   C. Rumusan Masalah

1. Sejarah Peradaban India
2. Agama Buddha di Cina


PEMBAHASAN

1. Sejarah Peradaban India

          Sejarah peradaban India dianggap dimulai di daerah hulu Sungai Indus sekitar 33.000 tahun yang lalu, tepatnya di Mahenjo Daro dan Harappa. Pada mulanya penduduk tidak seperti sekarang tetapi memiliki perawakan yang kecil, berkulit hitam, dan berambut keriting yang lebih dikenal sebagai bangsa Dravida. Setelah masuknya bangsa Arya yang membawa serta kebudayaannya membuat peradaban bangsa Dravida terdesak ke bagian selatan. Dalam hal ini bangsa Arya menjadi bertambah pesat. Agama Budha tumbuh di India tepatnya bagian Timur Laut. Agama Budha muncul sebagai reaksi terhadap domonisi golongan Brahmana atas ajaran dan ritual keagamaan dalam masyarakat India. Selain itu adanya larangan bagi orang awam untuk mempelajari kitab suci. Bahkan sebelumnya kaum ksatria dan raja harus tunduk kepada Brahmana. Sidharta memandang bahwa sistem kasta dapat memecah belah masyarakat bahkan sistem kasta dianggap membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahiran. Oleh karena itu, Sidharta berusaha mencari jalan lain untuk mencapai moksa yang kemudian berhasil ia peroleh di Bodhgaya (tempat ia memperoleh penerangan agung). Pahamnya disebut agama Budha. Menurut agama Budha kesempurnaan (Nirwana) dapat dicapai setiap orang tanpa harus melalui bantuan pendeta/ kaum Brahmana. Setiap orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mencapai kesempurnaan tersebut asalkan ia mampu mengendalikan dirinya sehingga terbebas dari samsara. Berdasarkan pandang tokoh-tokoh agama Buddha, sejarah agama Buddha tidak dimulai pada abad ke-6 dengan kelahiran Sidharta Gautama, tapi sudah jauh sebelumnya, yaitu dengan sejarah-sejarah kehidupan dia sebagai Buddhisattwa atau “Buddha yang akan datang” beserta ajaran Buddha yang menyangkut kelahiran kembali (samsara).

Dalam alur sejarah agama agama di india zaman agama budha dimulai sejak tahun 500 SM Hingga tahun 300 M, secara Historis agama tersebut memepunyai kaitan erat dengan agama hindu yang dating sebelunnya, sebagai agama ajaran budha tidak bertitik tolak dari tuhan dan hubungannya dengan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia tetapi dari keadaan yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari hari, khususnya tentang tata susila yang harus di jalankan manusia agar terbebas dari lingkaran kesesatan yang selalu menngiringi kehidupannya,
Telah lama kita dengar dalam cerita dan kisah yang berkembang di masyarakat kalangan umat budha bahwa jauh sebelum zaman prasejarah pernah hidup seorang mahluk yang bernama sumedha, ia pernah mengalami berjuta juta kali reinkarnasi selama ia dalam tubuh seorang manusia yang mempunyai derajat ke-budha-an yang bernama sidharta, tidak semua mahluk bias menjelma dalam tubuh yang mempunyai derajat ke-budha-an sebab derajat ini hanya bias dicapai oleh seorang yang benar benar telah mempersembahkan pengorbanan yang besar terhadap sesama umat manusia,
Cerita mengenai riwayat hidup budha sendiri diliputi olej mito;ogi yang ajaib sehingga menimbulkan penilaian yang berbeda beda terhadap kebenaran cerita cerita tersebut, E.Senart (1875) berpendapat bahwa cerita tentang riwayat itu hanyalah mite yang telah berkembang pada zaman sebelum Gautama lahir, dan mite ini merupakan menggambarkan pemujaan terhadap matahari,
H. Oldemberg berpendapat bahwa Gautama memang benar benar lahir tetapi cerita mengenai dirinya disesuaikan dengan keadaan waktu, sedangkan H.Kern mengatakan dengan menyatukan kedua pendapat diatas dan berpendapat bahwa budha Gautama memang benar benar lahir tetapi cerita kehidupannya memang diliputi oleh suatu mite tentang matahari yang menerangi bumi.

C. Riwayat Sidharata Gautama

       Menurut Riwayat .sidharta dilahirkan pada tahun 560 SM, didaerah kapilawastu di kaki pegunungan Himalaya, India Utara kira kira seratus mil dari benares, dalam buku ‘Agama agama Manusia” menyebutkan bahwa ayah dari sidharta adalah seorang bangsawan yang kaya raya, sedang dalam buku lain disebutkan bahwa ayahnya adalah seorang raja yang kaya raya bernama sudhodana dan ibunya bernama maya, tempat lahirnya ditemukan dilumbini pada tahun 1895 .
Pada suuatu hari maya yang sedang hamil tua pergi dari kapaliwastu ke devadha hendak menego saudaranya di tengah tengah perjalanan hatinya tertarik untuk melihat hutan kecil yang penuh dengan bunga dan burung bersiulan, ketika di dalam hutan tersebut itulah maya melahirkan sidharta dengan wajah yang bersina bagai matahari, di ceritakan bahwa ketika sidharta lahir seketika itu pula orang yang tuli bias mendengar, yang lumpuh dapat berjalan, yang buta dapat melihat dan yang sakit dapat menjadi sembuh, sesudah melahirkan sidharta 7 hari kemudian maya meninggalkan dunia yang fana ini.
Bayi yang lahir tersbut menurut ramalan seorang pendeta (bernama asita), bahwa bayi tersebut bbetul betul sebagai utusan dewa yang kelak akan menjadi pemimpin dan petunjuk bagi semua mahluk dan menolong segenap rohani manusia dari samsara .
Ayahnya yang merawat dan menjaganya, menginginkan agara sidharta menjadi seorang raja besar sebagai penerusnya, sejak lahir sidharta di pelihara baik baik diasuh dengan segala kebesaran dan kenikmatan serta kemewahan, beliau tidak dapat meninggalkan istana dengan sekehendak hati, jika beliau hendak pergi bertamasya harus diiringi oelh pegawai istana.
Setelah dewasa kemudian sidharta mempunyai istri yang bernama gopa dan mempunyai anak laki laki yang bernama rahula,
pada suatu hari sidharta berjalan jalan di kota kemudian melihat orang yang tua bertongkat dan hampir menyentuh dadanya badannya telah bongkok, kepalanya berat dan tidak berdaya lagi membawanya, sidharta kemudian merasa kasihan dan sedih melihatnya,
suatu kisah lain menceritakan bahwa sidharta telah melihat seorang yang meringkuk karena sakit sambil mengerang dan mengaduh tanda beratnya penderitaan yang hidup yang dilalui orang tersebut,keluarga disekelilingnya tidak berdaya menghilangkan rasa sakitnya malah dia tidak dapat menegtahui apa penyakit yang diderita oleh saudaranya tersebut.
Cerita ketiga menceritakan bahwa sidharta telah melihat satu tubuh mayat yang sudah lama membusuk dan menimbulkan bau yang sangat menusuk, perjumpaan dengan orang sakit, orang tua dan seorang mati membuat sidahrta kemudian memikirkan tentang penderitaan, kemudian dia mulai berfikir zuhud dan meninggalkan kemewahan serta kesibukannya dan berfikir semoga dia bisa sampai ketingkat untuk mengetahui rahasia alam .
Sejak mulai berfikir zuhud itu lah sidharta mulai sering keluar dari istana dan bertapa dan menjadi budha yang artinya “yang disinari”, dari hasil bertapanya ini sidharta mendapatkan ilham berupa 4 ajaran pokok dan 8 jalan kebenaran .

D. Ajaran sidharta Gautama

      Setelah sidharta melakukan pertapaan selama beberapa tahun kemudian dia mendapatkan ilham berupa 8 jalan jalan kebenaran dan 4 poin khutbah yang kemudian dia sebarkan kepada semua orang orang, keempat poin tersebut adalah :
1. Lahir menjadi tua, dan meninggal dunia itu menderita, begitu pula itu halnya dengan bersedih hati itu juga menderita, segala hal yang berhubungan dengan ketidak enakkan adalah suatu pernderitaan,
2. Apakah yang menyebabkan penderitaan itu?
Penderitaan itu disebabkan oleh hati yang tidak ikhlas dan hawa nafsu,
3. Dapatkah penderitaan itu dihilangkan?
Penderitaan akan lenyap bila hawa nafsu yang berlebihan dapat dihilangkan
4. Bagaimanakah cara melenyapkan penderitaan itu?
Cara untuk melenyapkan penderitaan itu hanya dengan menjalani delapan jalan kebenaran yang diberikan oleh budha, yaitu :
a. Percaya yang benar
b. Cita cita yang benar
c. Ucapan yang benar
d. Perbuatan yang benar
e. Hidup yang benar
f. Mempelajari hokum yang benar
g. Ingatan yang benar
h. Tafakur atau Samadhi yang benar.

Menurut Karen amstrong dalam bukunya yang berjudul “Budha” kedelapan unsur jalan kebenaran tersebut telah ada dalam 3 aspek yaitu:

1. Moral atau pengendalian diri, yaitu berkata, bertindak, dan hidup yang benar, pada pokoknya ketiga komponen ini merupakan bagian dari ekspresi diri.
2. Meditasi, yaitu ajaran yoga yang disempurnakan Gautama, termasuk didalamnya konsentrasi , perhatian dan usaha yang benar.
3. Kebijaksanaan, dua nilai moral pemahaman, yaitu pemahaman yang benar dan tindakan yang baik .

Sejarah perkembangan agama Buddha tidak lepas dari bantuan raja-raja yang mendukung agama Buddha, di antaranya adalah :

a. Ajatasatu

Raja dari kerajaan Magadha yang memberi sokongan dana pada saat diadakannya sangha samaya pertama di goa Satapani, Rajagaha. Dalam sangha samaya ini untuk pertama kalinya ajaran Buddha diulang dan dikumpulkan setelah parinibbananya Buddha Gotama.

b. Ashoka wardhana

Asoka pada awalnya beragama Hindu dan memiliki perangai yang menakutkan dan kejam. Jika ada kerajaan lain yang tidak mau tunduk kepada Asoka maka kerajaan tersebut akan diserang dan dijadikan daerah jajahan. Namun setelah mengenal ajaran Buddha Asoka mulai berubah perangainya. Asoka ikut menyebarkan agama Buddha ke luar India dengan mengirimkan banyak Dharmaduta-dharmaduta ke tempat yang berlainan serta mendirikan banyak prasasti yang berisi tentang ajaran-ajaran agama Buddha. Asoka juga mengirimkan putra-putrinya yaitu bhikkhu Mahinda dan bhikkhuni Sanghamitta ke Ceylon untuk menyebarkan agama Buddha di sana. Sanghayana ke-3 diadakan di pataliputta waktu pemerintahan Asoka, dikarenakan adanya perselisihan diantara sekte terhadap pemahaman akan kitab suci tipitaka .
Dari Konsili I sampai IV secara garis besar terpecahlah aliran Buddha menjadi empat aliran besar, yaitu .
Sthavirada menjadi aliran yang sekarang bernama Theravada Buddhis, sedangkan Mahasangika dan Sarvastivada kelak menjadi aliran Mahayana Buddhis. Sammitya yang merupakan pecahan Sthavirada sudah punah.

Theravada Buddhis berkembang di India semasa Raja Asoka dan dibawa oleh Putra Raja Asoka yang bernama Mahinda ke Srilanka dan kelak dari Sri Lanka menyebarlah Buddha Theravada ke Asia Tenggara pada abad ke-11.

Mahayana Buddhis berkembang di India sebagai bukti adanya perguruan Buddhis Nalanda sampai seribu tahun, sampai dihancurkannya oleh pendatang dari Persia. Mahayana mendapat warna dan bentuk sebagai sistim filsafat Buddhis oleh guru besar yang dikenal sebagai pendiri dua sekte Mahayana, yaitu Nagarjuna abad II Masehi, yang mendirikan sistem madyamika dengan karyanya yang terkenal Mulamadyamaka-karika dan Asanga abad IV Masehi yang mendirikan Sistem Yogacara-vijnanavada dengan karya terkenalnya Yogacarabhumi-sastra. Dari India menyebarlah agama Buddha Mahayana ke timur, yaitu Cina, Korea, Jepang, dan ke Utara Tibet dan Nepal yang kelak menjadi Tantrayana Buddhis. Menjelang pertemuan terakhir atas anjuran raja asoka maka dikirimlah utusan utusan ke berbagai Negara untuk menyebarkan dharma, antara lain : Syiria, Mesir, Yunani, dan Asia Tenggara

a. Mahayana di India

Sekitar awal era Kristen, terjadi suatu gejala baru pada agama Budha, yakni bermunculan Mahayana yang secara harfiyah berarti kendaraan “kendaraan besar” . Mahayana timbul karena lemahnya semangat lama yang menghasilkan makin sedikit Arahat, serta tekanan-tekanan dalam doktrin selagi mereka berkembang dan juga karena tuntutan pengikut awam mengenai hak-hak sederajat dengan para biksu. Pengaruh asing juga banyak mempengaruhinya. Mahayana berkembang di Barat Laut India dan India selatan, daerah dimana agama Budha paling banyak terkena pengaruh-pengaruh non India, seperti pengaruh seni Yunani dalam bentuk Hellenistik dan Romawi, maupu pengaruh pandangan dari Mediterania dan Iran, penyilangan ini secara kebetulan menyebabkan agama Budha Mahayana cocok dibawa ke luar India. Agar dapat disebarkan keluar India. Agama Budha pertama-tama harus di modifikasi dengan pengaruh-pengaruh agama asing, sebelum agama Budha diterima oleh agama asing, contoh seperti agama Budha yang berkembang di daerah Cina maka dia harus menyesuaikan adat budaya Cina, serta menjalani tahap proses de-Indianisasi. Harus menerima pengaruh dari mereka dahulu. Bahkan secara garis besarnya, hanya gama Budha Mahayana inikah yang mampu hidup diluar India .Penyebaran aliran Mahayana antara abad pertama - abad ke-10 Masehi Dari saat itu dan dalam kurun waktu beberapa abad, Mahayana berkembang danmenyebar ke arah timur. Dari India ke Asia Tenggara, lalu juga ke utara ke AsiaTengah, Tiongkok, Korea, dan akhirnya Jepang pada tahun 538.

b. Hinayana di India

Walaupun Mahayana berkembang, seolah-olah Hinayana yang lama tetap berjalsan. Tentu saja perkembangan-perkembangan yang baru mempengaruhi mereka juga. Mereka mengadopsi teori-teori Mahayana, baik dengan secara meminjam secara langsung ataupun secara karena terpapar pengaruh yang sama yang membentuk Mahayana. Ide tentang Bodhisattwa kini menjadi terkenala dialam literatur Jataka yang umumnya menceritakan tentang kehidupan seorang Buddha sebelumnya. Pada awalnya cerita-cerita ini hanyalah sebuah dongeng saja, perumpamaan dan lain-lain. Yang diambil cerita rakyat dari bangsa India itu sendiri yang banyak tersimpan. Maka cerita-cerita ini disusun menjadi cerita Bodhisttwa . Kata Hinayana bukanlah berasal dari bahasa Tibet, bukan berasal dari bahasa China, Inggris ataupun Bantu, tetapi berasal dari bahasa Pali dan Sanskerta. Oleh karena itu, satu-satunya pendekatan yang masuk akal untuk menemukan arti dari kata tersebut, adalah mempelajari bagaimana kata hiinayaana digunakan dalam teks Pali dan Sanskerta. Hinayana terdiri dari Hina (kecil) dan Yana sering disebut sebagai kendaraan kecil karena bertujuan menjadi arahat maupun paccekabuddha yang dianggap lebih rendah (inferior). Istilah Hinayana sendiri sebenarnya merupakan istilah yang diberikan oleh kaum Mahayana. pengikut aliran Hinayana tersebar mulai dari Srilanka, Burma ,Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Laos. Tradisi yang berkembang selama berabad-abad telah mengubah praktek sempit aliran Hinayana yang pada awalnya hanya di tujukan untuk bikhu. Hinayana menjadi aliran yang besar dengan di kenal ditenggah masyarakat. Para bikhuni terus menekuni ajaran guna mencapai tingkat arhat. namun metode baru berkembang untuk perumah tangga (umat awam) dalam mempraktikkan ajaran Agama Budha,meskipun mereka tinggal bersama keluarga, memiliki harta dan mengejar karir. Aliran hinayana mengajarkan kepada pengikutnya untuk hidup sesuai ajaran, puas dengan apa yang diperoleh, dan hidup bahagia.

2. Agama Buddha di Cina Dengan mengetahui gambaran menyeluruh tentang sejarah negeri China, maka sejarah perkembangan agama Buddha di China akan dipahami dengan lebih baik. Sejak jaman perunggu di China, kerajaan-kerajaan timbul dan tenggelam, pemerintahan juga berubah-ubah dari pangeran hingga pegawai pemerintah.

Penduduk China berkembang dengan pesat. Pada abad pertama sebelum masehi, penduduk negeri ini diperkirakan sudah berjumlah 50 juta. Daerah-daerah subur di sepanjang aliran­-aliran sungai menjadi tempat pemukiman yang memberikan cukup makanan. Padi merupakan bahan pokok utama. Tanaman baru yang berasal dari Champa (Vietnam) yang berkembang pada abad 11 seperti gandum, ubi jalar yang dapat tumbuh pada tanah-­tanah yang sempit, ikut mendorong pertumbuhan jumlah penduduk. Pada sekitar tahun 1200, jumlah penduduk China diperkirakan berjumlah 100 juta, jumlah tersebut menurun menjadi sekitar 65 juta pada tahun 1368 yakni pada tahun berakhirnya dinasti Mongol. Sejak itu jumlah penduduk mengalami peningkatan. Namun, laju pertumbuhan penduduk tidak terlalu pesat karena mengalami beberapa hambatan yang disebabkan oleh bencana alam (banjir, penyakit), peperangan, dan kerusuhan sosial.

Penduduk China terdiri dari suku-suku bangsa dengan bahasa yang berlainan. Suku yang utama adalah Bangsa Han, yang mengembangkan dasar-dasar kebudayaan dan politik sejak dinasti Han (202-220 SM). Para ahli bahasa menggolongkan bahasa China dalam keluarga Sino-Tibet. Dialek-dialek yang merupakan bagian dari bahasa China beberapa diantaranya adalah dialek Wu atau Soochow, didapati di sekitar sungai Yangtze dan Shanghai, dialek Min diwakili oleh Amoy (Fukien selatan) dan Swatow (Kwantung dan pulau Hainan), dialek Hakka Yueh (Kanton), serta suku-suku minoritas di selatan dan barat yang berdarah campuran Turki dan Mon­gol. Karena pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, kesulitan bahasa telah melahirkan bahasa Mandarin sebagai bahasa nasional pada abad ke 20 ini.

Sejarah China memberikan gambaran bahwa agama tidak memegang peranan penting. Filsafat etika (moral) dari Kong Hu Chu atau Confusius (551-479 SM) yang mengajarkan ”jen” sebagai azas kesatuan telah dilengkapi dengan konsep "yi" atau kebenaran oleh Mencius (sekitar 372-289 SM). Pandangan filsafat tersebut kemudian disempurnakan oleh Hsun Tzu (306-212 SM).

Selain pandangan pembaharuan yang berdasarkan tata laku dalam kehidupan masyarakat yang berasal dari Kong Hu Chu, terdapat juga pandangan lain yang berdasarkan kehidupan rohani (bertapa) dari Lao Tzu (sekitar 575-485 SM) dan Chuang Tzu (sekitar 369-286 SM) yang disebut "Teo Te Ching". Dalam sejarah China, kedua pandangan tersebut silih berganti berkembang sesuai dengan keadaan kehidupan masyarakat. Bila keadaan tenang dan makmur, maka pandangan Kong Hu Chu yang berkembang. Dan sebaliknya bila keadaan sulit, maka ajaran Tao yang populer.

Keruntuhan dinasti Han pada awal abad ke-3 Masehi telah membuat kerajaan China mengalami kemunduran dalam beberapa abad. Ajaran Kong Hu Chu pun memudar dan pada masa ini agama Buddha mulai diperhatikan masyarakat China, ajaran Tao juga mengalami kebangkitan kembali.

Sejarah filsafat China dapat dibagi menjadi lima periode, yaitu :
1.   Periode kuno awal (sampai sekitar 200 SM)
2.   Periode kuno kemudian (sekitar 200 SM - 400 M)
3.   Periode pertengahan (sekitar 400–1000 M)
4.   Periode modern awal (sekitar 1000–1800 M) dan
5.   Periode kontemporer (sejak tahun 1800 M)

Ensyclopedia Americana cetakan tahun 1978 menyebutkan nama-nama dinasti dan negara (kerajaan) di China dari zaman purba sebagai berikut :

Kerajaan T'ang (legenda)
3.000 tahun SM
Kerajaan Yu (legenda)
3.000 tahun SM
Dinasti Hsia
1994-1523 SM (perkiraan)
Dinasti Shang (Yin)
1523-1028 SM (perkiraan)
Dinasti Chou
Chou barat
Chou timur
1027-256 SM (perkiraan)
1027-770 SM (perkiraan)
770-256 SM
Dinasti Chin
256-206 SM
Dinasti Han
Han barat (awal)
Hsin
Han timur (kemudian)
202 SM – 220 M
202 SM – 9
9-23
25-220
Tiga kerajaan
Shu
Wei
Wu
220-265
221-264
220-265
222-280
Dinasti Chin (Tsin)
Chin barat
Chin timur
265-420
265-317
317-420
Dinasti-dinasti selatan
Liu Sung
Ch'i
Liang
Ch'en
420-589
420-479
479-502
502-557
557-589
Dinasti-dinasti utara
Wei (kemudian)
Wei (timur)
Wei (barat)
Ch'i (utara)
Chou (utara)
385-581
386-535
534-550
535-556
550-557
557-581
Dinasti Sui
581-618
Dinasti T'ang
618-906
5 (lima) dinasti
Liang (kemudian)
Yang (kemudian)
Chin (kemudian)
Han (kemudian)
Chou (kemudian)
907-960
907-923
923-936
936-947
947-950
951-960
10 (sepuluh) kerajaan
Wu
T'ang (selatan)
Ping (selatan)
Ch'u
Shu (awal)
Shu (kemudian)
Wu-yueh
Min
Han (selatan)
Han (utara)
902-979
902-937
937-975
907-963
927-951
907-925
934-965
907-978
909-944
907-971
951-979
Dinasti Sung
Liao
Sung (utara)
His-hsia
Chin (Kin)
Sung (selatan)
960-1279
947-1125
960-1126
990-1227
1115-1234
1127-1279
Dinasti Yuan (MONGOL)
1271-1368
Dinasti Ming
1368-1644
Dinasti Ch'ing (MANCHU)
1644-1911
Republik
sejak 1912 (Agama Buddha di China)


Agama Buddha berkembang ke China sekitar abad kedua sebelum masehi melalui Asia Tengah dan mulai berpengaruh pada masa pemerintahan Kaisar Ming (58-75 M). Sejak dinasti Han (202-­220 M), agama Buddha mulai mendapat perhatian. Kira-kira pada masa itulah Mo Tzu menyusun bukunya Li-huo-lun (Menangkis Kekeliruan) sebagai apologia bagi agama Buddha.

Pada tahun 147 M seorang bhiku dari Asia Tengah bernama Lokaraksha telah menetap di Loyang, ibukota dinasti Han masa itu. Pada abad ke-2, ke-3, dan ke-4 banyak bhikkhu dari India pergi ke China dan menyalin berbagai Sūtra dan sastra dalam bahasa China.

Pada tahun 399 M seorang bhiku China bermana Fa Hien, bersama rombongannya yang terdiri atas 10 orang, melakukan perjalanan ke India melalui jalan darat untuk mempelajari agama Buddha. Pada tahun 413 M, beliau pulang melalui jalan laut dan singgah di Sriwijaya (Sumatera) dan Jawa. Beliau menyalin berbagai sūtra. Catatan beliau mengenai negara-negara Buddhis (Record of Buddhist countries) terkenal sampai kini.

Dalam masa dua setengah abad, setelah Bhiku Fa-Hien, banyak lagi peziarah yang terdiri dari bhiku-bhiku China, berangkat ke India. Tetapi catatan perjalanan mereka lenyap, kecuali petikan-petikan singkat yang terdapat pada berbagai naskah kuno. Menjelang awal abad ke-7 M, seorang bhiku Cina bernama Huan­ Tsang melakukan perjalanan lagi ke India dan catatan perjalanan beliau pada berbagai wilayah barat itu (Record of West­ern Regions) merupakan salah satu sumber sejarah sampai kini. Beliau merasa tidak puas menyaksikan agama Buddha yang dicintainya telah kehilangan pengaruh di anak benua India.


Buddhisme atau atau dalam bahasa cina fójiào pertama kali dibawa ke Cina dari India oleh para misionaris dan pedagang di sepanjang Jalan Sutra yang menghubungkan Cina dengan Eropa pada akhir Dinasti Han (202 SM - 220 M) .
Pada saat itu, Buddhisme India sudah lebih dari 500 tahun, tetapi iman tidak mulai berkembang di China sampai penurunan dari Dinasti Han dan mengakhiri keyakinan ketat Konfusianisme.
Sebelum agama Buddha masuk di Cina, masyarakat Cina sudah memiliki kepercayaan sendiri, yakni Kong Hu Chu yang diajarkan oleh Confusius, dan Tao yang diajarkan oleh Lao Tzu. Confusius mengajarkan tentang “Jen” sebagai azas kesatuan, sedangkan Lao Tzu mengajarkan tentang “Tao Te Ching”. Agama Buddha mulai berkembang di Cina sekitar abd ke-2 S.M melalui Asia Tengah serta mulai berpengaruh pada masa pemerintahan kaisar Ming (58-75 M) .
Dalam filsafat Buddha . Ada orang-orang yang mengikuti Buddhisme Theravada tradisional, yang melibatkan meditasi yang ketat dan membaca lebih dekat dari ajaran asli Sang Buddha. Buddhisme Theravada menonjol di Sri Lanka dan sebagian besar Asia Tenggara. Ini dalah keberhasilan yang luar biasa dalam agama Buddha yang telah mengusik para pejabat tinggi China dalam banyak hal, karena kelihatanya tidak acuh dengan keberlangsungan keluarga, menunjukan sedikit kesetiaan kepada negara dan sepertinya mengorbankan kepercayaan takhayul yang tanpa dasar. Rahib Buddha. Dengan dasar pengasingan diri, menolak untuk membuat tanda-tanda penghormatan lahiriyah yang terkenal yang secara umum pada putra langit dan pengiringnya .
Agama Buddha yang memegang di Cina adalah Mahayana Buddhisme, yang mencakup berbagai bentuk seperti Buddhisme Zen, Pure Tanah Buddhisme dan Buddhisme Tibet - juga dikenal sebagai Lamaism.
Mahayana Buddhis percaya di banding yang lebih luas dengan ajaran Buddha dibandingkan dengan pertanyaan filosofis yang lebih abstrak diajukan dalam Buddhisme Theravada. Buddha Mahayana juga menerima Buddha kontemporer seperti Amitabha, Buddha Theravada yang tidak.
Buddhisme mampu untuk secara langsung menjawab konsep penderitaan manusia - yang memiliki daya tarik yang luas untuk orang Cina yang berurusan dengan kekacauan dan perpecahan negara berperang bersaing untuk kontrol setelah jatuhnya Han. Banyak etnis minoritas di China juga mengadopsi ajaran Buddha.
Persaingan dengan Taoisme
Ketika pertama kali diperkenalkan, Buddhisme menghadapi kompetisi dari pengikut Sementara Taoisme (juga disebut Taoisme) sama tuanya dengan Buddhisme, Taoisme adalah adat untuk Cina. Taois tidak memandang hidup sebagai penderitaan. Mereka percaya dalam masyarakat dipesan dan moralitas ketat, tetapi mereka juga memegang keyakinan mistis yang kuat seperti transformasi utama, di mana jiwa hidup setelah kematian dan perjalanan ke dunia yang abadi. Karena dua keyakinan sangat kompetitif, banyak guru dari kedua sisi dipinjam dari yang lain. Hari ini banyak orang Cina percaya pada unsur-unsur dari kedua sekolah pemikiran.
Tokoh-tokoh masyarakat mendapati para biksu lebih dapat didekati dari pada para Taois yang sealu menggerakan pemberontakan diantara para petani dan yang biara-biaranya didukung oleh para anggota yang merupakan para pengikut mereka. Sebaliknya kaum Budhisme bergantung pada donasi dari umat yang kaya, dan karena itu dapat dipercaya tidak akan mengejar tujuan-tujuan politis untuk kepentingan sendiri yang tidak diharapkan. Yang terakhir, masyarakat sungguh-sungguh tertarik pada cita-cita Bodhisattwa yang membuka kemungkinan tertinggi bahkan untuk lapisan masyarakat rendah, pantheon Buddhis, dengan makhluk leluhur yang penuh kasih sayang seperti Kuan Yin dan lain-lain . Dapat membangkitkan dorongan dan penghiburan dan berkat dukungan Buddha dan Sangha, bahkan mereka mengharapkan kehidupan lebih baik untu berikutnya.
Popularitas Buddhisme, menyebabkan konversi cepat untuk Buddhisme kemudian oleh penguasa Cina. Sui dan Dinasti Tang berikutnya semua diadopsi Buddha sebagai agama mereka. Agama ini juga digunakan oleh penguasa asing dari Cina, seperti Dinasti Yuan dan Manchu, untuk menghubungkan dengan Cina dan membenarkan kekuasaan mereka. Para Machus diupayakan untuk menarik paralel antara agama Buddha. agama asing, dan pemerintahan mereka sendiri sebagai pemimpin asing. Kontemporer Buddhisme: Meskipun pergeseran China untuk ateisme setelah Komunis menguasai Cina pada tahun 1949, Buddha terus tumbuh di Cina, terutama setelah reformasi ekonomi pada tahun 1980an. Saat ini ada diperkirakan pengikut agama Buddha di Cina dan lebih dari 20.000 kuil Buddha. Ini adalah agama terbesar di Cina. Aliran-aliran agama Buddha yang berkembang di Cina secara garis besar ada dua paham, yaitu : 1. aliran paham Atta, 2. aliran paham Anatta.
1. Aliran Theravada di Cina
Aliran Theravada pada mulanya terbagi atas tiga aliran, antara lain : Cheng-shih (Sautrantika), Chu-she (Vaibhashika), Lu. Ketiga aliran ini tidak berumur lama karena kalah dari aliran-aliran baru dari mazhab Mahayana .

2. Aliran Mahayana di Cina

Ada beberapa aliran dalam mazhab Mahayana, antara lain : San-lun, We-shih, Tien-tai, Hua-yen, Chan, Ching-tu,Chen-yen. Diantara ketujuh aliran tersebut hanya empat yang paling berpengaruh, yaitu : Tien-tai, Hua-yen, Chan, Ching-tu.

Tokoh-tokoh agama Buddha di Cina.

1. Kumarajiva (Ci-mo-lo-shi)

Kumarajiva berasal dari kashmir. Tinggal di Cina mulai awal abad ke-5 M dan memimpin lembaga yang bertugas menterjemah kitab suci agama Buddha ke dalam bahasa Cina. Terjemahannya meliputi 300 jilid buku. Kumarajiva meninggal pada tahun 413 M.

2. Paramartha (Po-lo-mo-tho)

Paramatha berasal dari Ujjain dan dikirim ke Cina oleh raja Magadha, tahun 548 M tiba di Nanking. Paramatha meniggal dalam usia 71 tahun pada tahun 568 M. Meninggalkan karya terjemahan sebanyak 70 judul kitab agama Buddha.

Jalur utara banyakan dari mazhab Mahayana karena mazhab Hinayana (Theravada) kurang dapat di terima karena hidup dengan empat musim dengan tuntutan vinaya(aturan) yang ketat dan harus meninggalkan kehidupan duniawi berat karena masyarakat akan kehilangan banyak tenaga produktif. Meski demikian awal perkembangannya banyak menemui kesulitan, penyebabnya antara lain anjuran untuk menjadi Bhiksu bertentangan dengan anak laki2 harus bertanggung jawab dan berbakti pada oragn tua dan leluhur. tapi fleksibilitas mazhab Mahayana terhadap tradisi dan budaya tanpa menghilangkan inti ajaran Buddha membuat masyarakat Cina secara luas dapat menerimanya. Sementara itu aliran-aliran baru dari India terus masuk ke Cina. dan berpengaruh besar terhadap Ajaran Buddha Sakyamuni. Kedudukan sentral Buddha Sakyamuni tergantikan dengan Buddha-Buddha lain yang dibabarkan oleh Sakyamuni sebelumnya yaitu : Buddha Amitabha dan Buddha Mahavairocana. Padahal keberadaan Buddha2 tersebut sebenarnya dibabarkan untuk mematahkan pandangan "hanya satu Buddha" Akibat kekeliruan ini, Agama Buddha di Cina bercampur-aduk dengan ajaran di luar Buddha sehingga menemui keruntuhannya. Dengan demikian Agama Buddha berangsur-angsur mengalami sinkretisme dengan filsafat tradisional Cina yaitu Konfucianisme dan Taoisme.

BAB
PENUTUP

A. Kesimpulan

Perkembangan agama Buddha tidak bisa lepas dari usaha-usaha Dharmaduta-Dharmaduta yang berjuang keras dalam mengembangkan agama Buddha. Raja Asoka termasuk salah satu raja yang aktif dalam mengembangkan agama Buddha dengan mengirimkan Dharmadutanya ke berbagai penjuru dunia. Dalam perkembangannya agama Buddha menjumpai tidak sedikit halangan termasuk dari berbagai agama bahkan dari aliran-aliran agama Buddha sendiri demi untuk kepentingan mereka pribadi.
Agama Buddha mengalami kemunduran di India yang merupakan tempat lahirnya Agama Buddha, dikarenakan mulai kembalinya pengaruh dari agama Brahma dan terpecahnya agama Buddha menjadi beberapa aliran atau sekte yang saling mempertahankan pendapatnya dan kitab yang digunakannya. Saat ini agama Buddha mulai menggema kembali di dunia, terutama di barat dimana orang-orang barat ingin mencari hal-hal yang bersifat spiritual yang di dunia barat sendiri sulit untuk mendapatkannya. Sehingga mereka mencarinya ke daerah timur (asia) yang sejak dulu terkenal dengan pusat-pusat spiritualnya dan tokoh-tokoh agamanya. Dalam perkembangan agama buddha didunia sekarang ini sangat prsat sekali dibanding zaman yang dulu terutama dibelahan bumi bagian barat (Amerika dan eropa). Orang-orang dibarat saat ini lebih menyukai spritual dan filsafat orang-orang timur, dimana terjadi kebalikanya oarang timur lebih menyukai hal-hal yeng bersifat modern dan kapitalis yang dimiliki orang barat


DAFTAR PUSTAKA

  • Conze,Edward,Sejarah Singkat Agama Buddha,Karaniya, Jakarta, 2010.cet. I
  • Memahami buddhayana, Bandung. 1995. cet. 50
  • Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, PT. Citra Mandala Pratama, Jakarta. 2004. cet :11
  • Tanggok, M. Ikhsan, Agama Buddha. Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009, cet. 1
  • Wahyono Mulyadi. 1995. Sejarah perkembangan Agama Buddha. Jakarta: Dirijen Bimas Hindu Buddha
  • Abdul manaf, Mujahid, Sejarah Agama Agama, Jakarta : PT.raja Grafindo Persada, 1996 
  • Salaby, Ahmad, Agama Besar Di India, Jakarta : Bumi Aksara, 1998.




by. Ahmad Khoirul Fatihin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar