Rabu, 13 Juni 2012

meditasi zen

(Meditasi Zen) adalah suatu bentuk meditasi yang fungsinya sebagai pusat dari Zen. Umat Budha Zen biasa disebut sebagai "umat Budha yang melakukan meditasi". Pada dasarnya, zazen adalah ilmu yang mempelajari diri sendiri. Dalam zazen, Anda akan merasakan bahwa dengan fokus pada nafas, kesadaran Anda pun akan meningkat.

Seorang guru Zen, Master Dogen mengatakan, "Untuk mempelajari jalan hidup Buddha adalah dengan mempelajari diri sendiri. Mempelajari diri dilakukan dengan melupakan diri, dan kita bisa melupakan diri dengan tercerahkan oleh puluhan ribu hal lain."

"Kita bisa tercerahkan oleh puluhan ribu hal itu dengan cara menyadari
satunya diri kita dengan ribuan hal itu," lanjutnya. Saat mengalami
pencerahan, Buddha sedang bermeditasi dalam keadaan duduk. Maka latihan dalam Zen tidak pernah jauh dari bentuk meditasi duduk.


Selama dua ribu lima ratus tahun bentuk meditasi tersebut terus berlanjut, dari generasi ke generasi. Meditasi ini merupakan hal terpenting yang menjadi warisan turun-temurun. Bentuk praktek meditasi ini sudah menyebar dari India ke negeri Cina, ke Jepang, dan negeri-negeri lain di Asia, lalu akhirnya ke Barat. Meditasi Zen merupakan latihan yang sederhana, mudah dijelaskan dan mudah pula dilakukan. Tapi seperti halnya latihan-latihan lain, untuk bisa dialami, harus dilakukan dulu.

Kita cenderung melihat tubuh, nafas, dan pikiran sebagai hal-hal yang
terpisah, tapi dalam zazen, ketiganya ini tergabung seperti satu hal. Yang terutama harus diperhatikan adalah posisi tubuh dalam zazen. Tubuh kita punya caranya sendiri dalam berkomunikasi ke luar dan ke dalam dirinya. Posisi tubuh kita berkaitan erat dengan apa yang sedang terjadi dalam pikiran maupun nafas Anda.

Mulai Dengan Posisi Tubuh Yang Benar

Selama bertahun-tahun evolusi agama Buddha, posisi tubuh zazen yang paling efektif adalah bentuk piramid bagaikan Buddha yang sedang duduk. Duduk di lantai lebih disarankan karena lebih stabil. Gunakan bantal kecil, disebut zafu dalam bahasa Jepang, untuk sedikit meninggikan bagian belakang tubuh, agar kedua lutut bisa menyentuh lantai. Dengan bagian belakang tubuh pada bantal dan kedua lutut menyentuh lantai, posisi tubuh Anda membentuk tripod dengan keseimbangan 360 derajat.

Bagaimana dengan kaki kita? Banyak posisi yang bisa dicoba dalam keadaan duduk seperti ini. Yang paling sederhana adalah posisi Burma. Kaki menyilang dan kedua telapak merapat dengan lantai. Kedua lututpun rapat menyentuh lantai, walau untuk bisa melakukan posisi ini memang perlu banyak latihan.

Pertama kali mungkin otot Anda merasa tegang, tapi tidak lama akan ototpun akan mengendor dan kedua lutut akan jatuh. Untuk mempermudah, duduklah di atas sepertiga bagian bantal, dan condongkan badan sedikit ke depan.

Bayangkan bagian atas kepala Anda seakan menekan ke arah langit-langit dan dengan menarik tubuh Anda ke atas seperti itu, tulang punggung menjadi tegak. Lalu kendorkan otot, dan santaikan diri Anda. Dengan bokong dikencangkan dan perut Anda dikedepankan sedikit, akan terasa lekukan di punggung Anda. Dalam posisi ini, dengan sendirinya tubuh Anda tetap tegak.

Ada beberapa posisi lain yang bisa Anda coba, ini bisa Anda lihat langsung di situs yang memuat instruksi meditasi Zen ini. Salah satunya duduk di kursi, tapi selalu gunakan kursi dengan bantal, dan telapak kaki rata pada lantai.

Kenapa punggung yang lurus itu penting dalam meditasi? Diafragma Anda bisa bergerak bebas, dan ini baik untuk pernafasan. Nafas yang dilakukan dalam zazen sangatlah dalam. Perut Anda akan naik turun seperti perut bayi saat bernafas. Biasanya makin kita dewasa, pernafasan kita menjadi semakin terhambat, tidak pernah penuh. Kita cenderung bernafas pendek-pendek dan menggunakan bagian atas dada.

Selama meditasi Zen ini, mulut selalu tertutup, dan bernafas melalui hidung. Lidah ditekan sedikit ke langit-langit mulut. Hal ini bisa mengurangi rasa ingin menelan ludah (posisi lidah seperti ini penting untuk melancarkan perputaran enerji dalam tubuh, red.). Pandangan mata ke arah bawah, dengan menatap ke lantai/tanah pada titik sejauh sekitar setengah sampai satu meter di depan Anda. Dagu sedikit ditarik ke dalam.

Zazen ini tampaknya sangat disiplin, tapi otot-otot Anda harus tetap santai. Jangan ada ketegangan pada tubuh. Dada tidak condong ke depan maupun ke belakang. Tangan? Terlipat dalam mudra (fokus) kosmik. Tangan yang dominan (kiri bagi yang kidal) menghadap ke atas memegang tangan satunya lagi yang juga terbuka ke atas. Kedua jempol sedikit menyentuh, sehingga bentuk kedua tangan menjadi oval. Jika Anda bersila dalam gaya lotus/teratai, tempatkan mudra pada kedua tumit. Dalam posisi Burma, mudra bisa diletakkan pada paha.

Fokus Pada Hara, Lalu Pada Nafas

Mudra kosmik ini akan menarik perhatian Anda ke dalam diri. Banyak cara untuk memfokuskan pikiran: ada gambar-gambar seperti mandala yang dalam banyak tradisi sering digunakan untuk konsentrasi. Bisa juga memakai mantera (mantera hanya istilah untuk suatu kata yang diucapkan berulang-ulang, Anda bisa menggunakan kata apapun sesuai kepercayaan Anda, misalnya nama Tuhan, red.).

Banyak bentuk mudra dalam berbagai kepercayaan dan agama Timur. Dalam zazen, fokus kita adalah pernafasan. Nafas adalah kehidupan. Kata "spirit" berarti nafas. Kata "ki" dalam bahasa Jepang atau "chi" dalam bahasa Cina, yang keduanya berarti kekuatan atau enerji, juga berasal dari nafas. Nafas adalah kekuatan vital, pusat kegiatan tubuh kita. Pikiran dan nafas juga satu. Saat pikiran terganggu, nafas terganggu, juga sebaliknya.

Dalam zazen, penting untuk memusatkan perhatian pada hara. Hara adalah satu titik pada tubuh kita yang terletak sekitar lima sentimeter di atas pusar. Hara merupakan pusat fisik dan spiritual dari tubuh kita. Pusatkan perhatian Anda ke sana, arahkan pikiran ke titik ini. Semakin Anda mengembangkan zazen, Anda akan makin menyadari bahwa hara adalah pusat perhatian Anda.

Kita bisa mulai dengan menghitung nafas kita. Menghitung tiap tarikan dan hembusan, sampai nafas ke sepuluh, lalu kembali lagi menghitung dari satu. Hitungan ini dilakukan sebagai umpanbalik untuk diri kita agar kita sadar bila pikiran kita telah terbang ke mana-mana. Tentu, makin lama bukan hitungan yang jadi perhatian Anda, tapi nafas itu sendiri. Biarkan nafas Anda yang 'melakukan pernafasan'.

Tiap kali Anda kembali mengarahkan pikiran pada nafas, Anda mengumpulkan kekuatan pada diri untuk bisa mengarahkan perhatian pada hal yang Anda ingin perhatikan, selama yang Anda mau. Fakta yang sederhana ini sangat penting. Kekuatan konsentrasi ini disebut joriki. Joriki bisa muncul dalam banyak bentuk. Joriki ini merupakan sentral dari seni bela diri maupun seni visual dalam Zen. Sebenarnya, Joriki ini merupakan sumber dari segala kegiatan dalam hidup kita.

Anda tahu? Dalam sebuah semedi yang khidmat, dalam zazen yang khusuk, seseorang bernafas dalam frekuensi dua sampai tiga kali semenit. Bandingkan dengan orang yang sedang tidur, dengan frekuensi nafas lima belas kali semenitnya. Detak jantung, sirkulasi, metabolisme, semua melambat dalam meditasi yang khusuk ini. Seluruh tubuh mencapai titik hening yang tidak bisa diperoleh dengan tidur biasa.

Jika Anda rajin melatih diri dengan zazen ini, dalam waktu tidak lama,
kesadaran Anda akan makin tajam, dengan sendirinya juga insting ataupun intuisi. Anda akan lebih menyadari adanya banyak hal yang sebelumnya selalu ada tapi tidak pernah Anda perhatikan.

Yang penting, lepaskan pikiran bahwa Anda melakukan zazen untuk mencapai kondisi tertentu. Lepaskan saja diri Anda saat melakukannya, pasrah. Karena terlalu sibuk mengurusi "percakapan internal" dalam diri Anda, Anda jadi tidak mampu melihat dengan baik segala yang terjadi di sekitar Anda. Proses zazen ini membuka diri Anda.

Kegiatan mental dan enerji kita sering tersebar percuma, membuat kita
terpisah satu sama lain, dari lingkungan, bahkan dari diri sendiri. Dalam
proses zazen ini, segala aktivitas yang terjadi di permukaan pikiran
ditenangkan, sehingga bagai permukaan danau, yang berada di dalam danau itu jadi terlihat jelas. Anda pun bisa melihat jelas diri Anda sebenarnya.


sumber: Zen Mountain Monastery

Tidak ada komentar:

Posting Komentar